وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“ Dan diantara tanda – tanda (Kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan – pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadannya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda (Kebesaran)-Nya bagi kaum yang berpikir.” (Qs : Ar-Rum : 21)
Sahabat Fillah, Akhi wa Ukhti yang selalu di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan semoga keberkahan-Nya di limpahkan kepada Antum dan keluarga..
Referensi dari makna cinta ini sebenarnya sangat luas, sehingga tidak bisa kita ungkapkan keseluruhannya menurut logika kita. Tapi, cinta itu bisa kita klarifikasikan dalam kehidupan kita.
CINTA, adalah hal fitrah dalam diri setiap mahluk, setiap manusia. Mencintai dan di cintai adalah dua hal yang saling berhubungan. Cinta bisa kepada siapa saja, dan kepada apa saja, apakah itu kepada sesama manusia, kepada benda maupun kepada makhluk lainnya. Namun, itu semua tidak akan berarti kalau tujuan CINTA itu bukan karena satu hal, yaitu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka cintailah apapun itu hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu lah tujuannya.
Cinta karena Allah memiliki banyak sekali keutamaan,
Rasululla Shallallahu’alahi wasallam. bersabda dalam sebuah hadits qudsi, “Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Cinta-Ku telah ditetapkan bagi siapa saja yang saling mencintai karena Aku.” (HR. Imam Ahmad)
Dalam hadits yang shahih juga dikisahkan tentang seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya semata-mata karena ia mencintainya karena Allah. Maka Allah Azza wa Jalla mengutus malaikat untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya. Malaikat itu mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Cinta kepada seseorang bukan hanya tertuju kepada lawan jenis semata, cinta bisa kepada seorang sahabat, baik lelaki maupun perempuan. Mencintai karena Allah, sesungguhnya cinta yang sangat indah, meski dalam perjalannya akan menemui rintangan, namun itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang senantiasa menguji hati para hamba-Nya.
Seperti hadits di atas yang kedua, bahwa seorang mencintai seorang lelaki saudaranya karena kebaikkan yang dimiliki oleh saudaranya tersebut, karena kealimannya, karena budi pekerti yang baik, sehingga ia mencintainya karena Allah Subahanahu wa Ta’ala. Sehingga Allah Subahanahu wa Ta’ala. pun mencintai mereka berdua.
Saya sering berbagi di akun Fb Junior Analizer, dan saya mempunyai banyak sahabat Fillah, di antara mereka ada seorang sahabat laki-laki yang pernah SMS saya, dan ia mengatakan: “Ya Akhi, ana uhibbukum fillah” (Wahai Saudaraku, aku mencintaimu karena Allah), langsung saya pun menjawab: “Ya Akhina, wa ana uhibbukum fillah” (Wahai saudaraku, aku juga mencintaimu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sepintas perkataan ini mengingatkan saya, bahwa Allah saat ini sedang menunjukkan saya seseorang yang mencinta saya karena Allah Subahanahu wa Ta’ala. Dan lama kami berkenalan, ia sering meminta fatwa dari saya tentang banyak hal agama, kami akrab, ia pun mengikuti sebuah organisasi yang saya ikuti. Alhamdulillah, pertemanan saya dengannya, membuat ia mulai memiliki banyak sahabat-sahabat fillah yang juga senang berbagi dengan saya.
CINTA, Dzat yang sangat utama kita cintai adalah Allah Azza wa Jalla. Karena kepada-Nya lah segala cinta yang pantas tercurahkan. Lalu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. yang telah mengajarkan kepada kita arti cinta. Kemudian kepada orang tua kita, karena merekalah surga kita….
“Surga itu dekat. Iya di Rumahmu; Kenapa Sibuk Mencari yang Jauh, Tapi yang Dekat Terlewatkan?”
Inilah kutipan judul yang di tulis oleh Ustadz Ahmad Al Habsyi dalam bukunya yang berjudul “Ada Surga di Rumahmu”
Betapa tingginya cinta yang seharusnya kita lakukan di Rumah kita kepada Orang tua kita. Sesungguhnya keridhaan orang tua adalah ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Do’a mereka sangat mustajab. Untuk itu, barang siapa yang ingin sukses dunia akhirat, maka mintalah do’a kepada orang tua, karena do’a mereka dapat menembus kekuatan langit. Artinya, dapat terkabul. Beberapa kisah tentang do’a seorang ibu pernah saya update dalam akun saya Junior. Do’a orang tua kepada anak laksana do’a Nabi kepada umatnya, itulah hebatnya cinta kepada orang tua.
Begitulah pula dalam hal membenci sesuatu, maka bencilah semata-mata hanya karena Allah Subhanahu w Ta’ala. Karena hal itu demi mencari Ridha-Nya.
Cinta kepada Hewan karena Allah Azza wa Jalla, adalah hal yang juga memang dilakukan.
Dalam suatu kisah, pernah pada zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ada seorang pezina wanita, yang memang sama sekali ia tidak pernah berbuat ma’ruf kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika di suatu perkampungan, ia melihat ada anjing yang hampir mati kelaparan dan kehausan. Padahal di sekitar situ banyak yang ahli Ibadah, tapi tak ada satupun yang mempedulikan ajing itu. Namun karena cintanya kepada anjing itu, wanita itu pergi mengambilkan makanan dan minuman untuk ajing itu. Esok harinya, Abu Bakar r.a. mendengar kabar bahwa wanita itu telah wafat, dan di wahyukan bahwa wanita itu masuk surga karena hatinya. Itu hal ghaib hanya menjadi hak Allah. Memang ajing itu haram, namun walau bagaimanapun ajing juga makhluk Allah, yang tidak boleh di bunuh. Mencintai hewan pun hanya karena Allah Azza wa Jalla, maka balasannya Allah Azza wa Jalla pun akan mencintai kita.
Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah pernah mengatakan:
“Setiap cinta kepada selain-Nya adalah siksaan dan bencana. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuni jika cinta kepada-Nya diduakan, sementara Dia mengampuni dosa-dosa yang lain bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”
“Cinta juga menjadi prinsip ibadah, jika cinta diiringi sikap tunduk dan merendah kepada Sang Kekasih.”
Ibnu Qoyyim juga menjelaskan, ada empat jenis cinta yang hendaknya dibedakan. Hanya orang yang tersesat yang tidak bisa membedakan jenis cinta.
Pertama, cinta kepada Allah. Mencintai Allah tidak cukup hanya supaya selamat dari azab-Nya dan mendapat pahala sebab kaum musyrik, para penyembah salib, orang-orang Yahudi, dan lainnya juga mencintai-Nya.
Kedua, mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Inilah yang memasukkan hamba ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Hamba yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lurus dan memiliki cinta yang kuat dalam hal ini.
Ketiga, mencintai karena Allah. Ini merupakan konsekuensi dari mencintai segala yang dicintai oleh-Nya yang tidak akan terwujud secara konsisten kecuali dengan mencintai karena-Nya.
Keempat, mencintai yang lain disamping mencintai Allah. Ini adalah cinta syirik. Setiap orang yang mencintai sesuatu yang lain di samping mencintai-Nya dan tidak karena-Nya semata, berarti ia telah mengangkat sekutu bagi-Nya. Ini adalah cinta kaum musyrik.
Selanjutnya, yang kelima dan bukan merupakan pokok pembahasan kita disini, yakni cinta alami. Ia adalah kecenderungan hati manusia kepada sesuatu yang sesuai dengan tabiat alamiahnya, seperti kecintaan orang yang haus air, orang yang lapar kepada makanan, atau kecintaan pada tidur, serta istri dan anak. Semua itu tidak tercela kecuali jika menyebabkan seorang hamba lalai kepada Allah dan menyibukkan dirinya hingga jauh dari cinta kepada-Nya.
CINTA (Mahabbah) dan KEDEKATAN (Khullah)
Kedekatan (penuh kesetiaan) adalah kesempurnaan cinta. Puncaknya adalah saat tiada lagi ruang dalam hati untuk mencintai selain kepada Sang Kekasih. Ini merupakan tingkatan cinta yang tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali dua hamba kekasih-Nya, yakni Ibrahim ‘alaihissalam dan Muhamma Shallallahu’alaihi wasallam. Sebagaimana beliau Shallallahu’alaihi wasallam. bersabda, “Sesungguhnya, Allah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia mengangkat Ibrahim ‘alaihissalam. sebagai kekasih-Nya.”
Diriwayatkan dalam hadits shahih beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Andaikan aku mengangkat seorang kekasih dari penduduk bumi, tentu aku telah menjadikan Abu Bakar radhialllahu’anhu. sebagai kekasih, akan tetapi sahabat kalian ini adalah kekasih Allah.”
Dan beberapa penjelasan tentang kisah cinta lainnya sudah saya update juga di akun Junior, silahkan lihat sendiri.
Itu lah beberapa makna cinta, yang hanya sebagian kecil saya ungkapkan, dan tidak mungkin saya ungkapkan banyak, karena itu sangat luas.
Mohon maaf bila ada dalam penulisan ini kesalahan, semata-mata datang dari diri saya sendiri. Semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah Shallallahu’alaihi wasallam.
Wallahu’alam bish shawab
Artikel Terkait

No comments:
Post a Comment